Saturday, 24 November 2018

Sepakbola Madiun yang Begitu-begitu Saja





Lahir serta besar di Kota Madiun sekurang-kurangnya membuat saya “haus” akan tontonan sepakbola yang dipertunjukkan oleh team luar kota ataupun luar negeri. Saat saya coba merenungkan serta diskusi dengan rekanan sejawat kenapa sepakbola di daerah asal saya ngono-ngono wae atau begitu saja, jawaban yang kami bisa mungkin sebab daerah kami bisa digolongkan menjadi kota kecil. Ada dibagian barat Propinsi Jawa Timur serta berjarak seputar 165 km. dari Surabaya membuat daerah kami minim industri.

Walau Madiun ikut dihuni industri kereta api, pabrik gula, ataupun industri taraf kecil-menengah yang lain, namun relatif minim bila dibanding dengan Surabaya yang bisa disebutkan menjadi kota industri serta berkarakter urban. Lantas apakah jalinan pada perubahan sepakbola dengan ciri-ciri satu daerah? Pasti ada hubungan erat pada perekonomian satu daerah dengan ketertarikan penduduk melihat laga sepak bola. Mengambil premis simpel, jika penghasilan penduduk di satu daerah rendah, apa tertarik beli ticket laga kesebelasan lokal?

Kondisi Madiun tidak bisa disamakan dengan Surabaya, Bandung, ataupun Jakarta, yang mempunyai daya beli relatif tambah tinggi dibanding Madiun serta didukung oleh fanatisme supporter. Mengambil contoh Persebaya, dikutip dari Emosi Jiwaku (EJ), saat putaran pertama jumlahnya pemirsa yang ada di Stadion GBT sekitar 247.878! Harga ticket laga kandang Persebaya untuk kelompok fans seharga Rp 50.000 sedang kelompok super fans seharga Rp 250.000! Cukuplah mahal untuk penduduk Madiun jika ‘cuma’ buat tonton laga sepak bola.

Keengganan untuk Memberi dukungan Team Lokal

Dalam arena persepakbolaan nasional, salah satunya club pendiri PSSI ialah PSM Madiun (Madiun Voetbal Bond). Sayangnya club ini mati suri serta beberapa waktu paling akhir tidak ikuti pertandingan Liga 3. Representasi Madiun dalam pertandingan sepak bola nasional untuk sekarang ini ialah Madiun Putra FC (MPFC) yang mulai ikuti pertandingan Divisi II Liga Indonesia Musim 2009/10 sesudah merger (baca: beli lisensi) dengan 007 FC Bandung serta sukses promo ke Divisi I. Secara cepat, MPFC sukses promo ke Divisi Penting Liga Indonesia Musim 2011/12, serta selanjutnya terdegradasi dari Liga 2 musim kemarin.

Ketertarikan penduduk Madiun juga tidaklah terlalu tinggi. Pengalaman saya pada dua tahun awal (2009 & 2010) pemirsa laga MPFC relatif banyak, walau belum pernah penuh. Kenapa? Sebab harga ticket laga saat itu masih tetap ada di rata-rata harga Rp 10.000-Rp. 15.000! Akan tetapi pemirsa makin lama makin menyusut sesudah MPFC bertanding di pertandingan Divisi Penting, kenapa? Harga ticket naik pada rata-rata harga Rp 20.000-Rp 25.000. Ticket laga yang sold out, sependek penilaian saya, cuma berlangsung pada laga MPFC versus Persebaya pada pertandingan Liga 2 musim kemarin. Saat itu Stadion Wilis Kota Madiun ‘diinvasi’ oleh Bonek yang hadir dari Surabaya serta beberapa kota/kabupaten di Jawa Timur, termasuk juga Madiun. Tiga perempat stadion dipenuhi dengan pemirsa berpakaian hijau, sedang supporter MPFC (yang masih setia memberi dukungan) tidak isi satu tribun penuh. Bahkan juga saya bersama dengan rekan-rekan melihat laga itu memakai jersey Persebaya serta menyanyikan chant memberi dukungan Persebaya!

Pasti boleh-boleh saja seorang memberi dukungan team sepakbola dari kota lainnya walau kotanya mempunyai kesebelasan. Saya sendiri contohnya, memberi dukungan Persebaya semenjak tahun 2004 saat duduk di bangku sekolah basic, jauh sebelum MPFC bermain di divisi II. Atau beberapa rekan saya yang pilih jadi simpatisan Arema Malang. Sebab ke-2 club itu jadi representasi sepak bola Jawa Timur semenjak pertandingan Perserikatan serta Galatama.

Saya tidak rasakan MPFC menjadi kesebelasan yang merepresentasikan diri saya sendiri, sebab tidak ada ikatan emosional pada saya (atau rekan-rekan saya) dengan MPFC. Ditambah MPFC sendiri tidak mempunyai prestasi yang ‘wah’ jika dibanding dengan Persebaya ataupun Arema. MPFC sendiri tidak pernah juara—setidaknya pertandingan Divisi I atau Divisi II—dan tidak pernah promo ke divisi paling atas. Hingga belumlah ada perasaan kebanggaan untuk memberi dukungan MPFC.

Generasi saya ataupun adik-adik saya cuma rasakan Madiun menjadi ‘daerah pemirsa sepakbola’ walau mempunyai stadion yang relatif bagus. Seringkali banyak kesebelasan yang jadikan Madiun menjadi home base sesaat. Kota Madiun sempat jadikan menjadi home base oleh Persekabpas Pasuruan, saat melalui pertandingan Divisi Penting musim 2005/2006 sampai separuh musim 2006/07. Atau Persis Solo yang memakai Stadion Wilis untuk beberapa pertandingan kandang paling akhir di pertandingan Liga 2 2017/18. Hingga sering jika daerah kami ‘diinvasi’ oleh suporter-suporter di luar kota, serta kultur yang tercipta ialah melihat serta memberi dukungan club sepakbola dari daerah lainnya.

*Harus Ada Perbaikan Menyeluruh *

Jika ingin lakukan perbaikan sepakbola di Madiun, atau beberapa daerah lainnya, tidak bisa jadikan rendahnya ketertarikan penduduk menjadi hanya satu aspek. Rendahnya ketertarikan penduduk Madiun akan sepak bola tidak berdiri dengan sendiri, ada beberapa faktor lainnya yang memengaruhi. Memerlukan perbaikan-perbaikan pada beberapa faktor lainnya.

Menurut Brenda G. Pitts & David Kent Stotlar dalam buku Mendasar of Sport Marketing (2002) ada delapan aspek yang memengaruhi industrialisasi, perkembangan, serta perkembangan satu berolahraga, diantaranya: (1) Sport activities & events atau Sportive Organizations; (2) Human; (3) Sport Alat; (4) Sport Goods; (5) Sport Facilities; (6) Commercialisation and marketing; (7) Professional Services Enterprises; serta (8) Education. Sependek penilaian saya penyelenggaraan pertandingan sepakbola lokal (tingkat junior atau amatir) belumlah teratur, hingga janganlah bingung jika pemain lokal tidak terasa terpacu untuk tingkatkan kemampuan. Dalam periode panjang janganlah mengharap ada penambahan sarana berolahraga dari pemerintah ataupun pengendalian persepakbolaan yang profesional dari swasta. Ke-2 stakeholders tersebut—pemerintah serta swasta—besar peluang tidak ingin ambil kemungkinan untuk keluarkan cost untuk menolong peningkatan sepakbola bila kegiatan sepakbola masih tetap sepi.

Misal Madiun telah dapat lengkapi ke-8 aspek itu dengan standard yang baik, saya fikir gairah persepakbolaan akan bertambah serta tidak begitu saja. Pasti tidak ada jalan instant serta gampang untuk mewujudkannya. Buat saya membuat satu club sepak bola tiada didukung ke-8 aspek itu akan membuat club itu terjerat pada stagnasi. Berprestasi tidak, membuahkan keuntungan juga tidak.

Bila lengkapi ke-8 aspek itu dipandang seperti perihal yang muluk-muluk, menurut saya cukuplah aspek pertama (Sportive Activities & Events), ke-2 (Human), serta ke-8 (Education) yang perlu dipenuhi untuk mengasah talenta pemain junior lokal. Sekurang-kurangnya putra-putra daerah Madiun bisa meningkatkan diri menjadi pemain sepak bola, walau mesti meneruskan karir di luar Kota Madiun. Mudah-mudahan tidak begitu saja.

0 comments:

Post a Comment